GP – Gerakan Pemuda

Renungan SBP | Kamis, 11 Oktober 2018

Renungan SBP | Kamis, 11 Oktober 2018

MINGGU KE XIX SESUDAH PENTAKOSTA

Kamis, 11 Oktober 2018

Kebaikan Hati Berbuah Manis

 

Bacaan Alkitab : Kejadian 45:16-20

… sebab apa yang paling baik di seluruh tanah Mesir ini adalah milikmu” (ayat 20)

 

Sebuah pepatah mengatakan “menang jadi arang, kalah jadi abu”, maknanya dalam peperangan tidak ada satu pihak pun yang mengalami kemenangan. Keduanya sama-sama mengalami kehancuran. Begitu pula dalam halnya dengan balas membalas perbuatan jahat. Banyak fakta menunjukkan bahwa aksi balas-membalas kejahatan justru semakin membawa manusia pada kehancuran bukan pada kebaikan. Dalam hal ini kita teringat kata pemazmur, dalam persaudaraan yang rukun, di sana Allah mencurahkan berkat.

Firaun mendengar berita mengenai kedatangan saudara-saudara Yusuf. Ia menyambut baik berita tersebut. Bahkan lebih lagi, ia meminta Yusuf agar ia menjemput ayahnya beserta saudara-saudaranya. Firaun berjanji akan memberikan yang paling baik di tanah Mesir sehingga keluarga Yusuf dapat mengecap kesuburan tanah Mesir. Penyambutan dan perlakuan Yusuf terhadap saudara-saudaranya yang dipenuhi dengan kasih sayang berbuah manis. Yusuf yang tidak memikirkan sedikitpun untuk membalas perlakuan saudara-saudaranya di masa lalu membuat ia bertindak dengan bijak dan tepat, menghasilkan sesuatu yang sangat baik bahkan untuk seluruh keluarganya. Tidak bisa dibayangkan jika Yusuf dikuasai sakit hati dan dendam sehingga yang Yusuf lakukan kepada saudara-saudaranya adalah yang sebaliknya, tentu keadaan keluarganya akan menjadi hancur berantakan.

Sobat muda, kita telah melihat contoh dari hati yang penuh belas kasih dan pengampunan yang dimiliki Yusuf. Kita telah melihat bahwa dampaknya adalah kebaikan bagi semua, bagi ayahnya, bagi saudara-saudaranya dan juga bagi Yusuf sendiri. Ini semakin menguatkan kita untuk hadir dengan membawa dan membagikan damai Tuhan kepada sesama. Hilangkan sakit hati, dendam dan amarah yang masih tersimpan. Minta kekuatan dan pertolongan Tuhan untuk memampukan. Hasilnya pasti manis dan baik bagi kita semua.

 

UNGKAPAN HIKMAT

Meski kecil dan sederhana, ingatlah untuk selalu berbuat baik di mana saja

 

DOA

Ya Allah penuhi hati kami dengan kebaikan sehingga hidup kami berdampak positif bagi sesama

Read More

Renungan SBP | Rabu, 10 Oktober 2018

Renungan SBP | Rabu, 10 Oktober 2018

MINGGU KE XIX SESUDAH PENTAKOSTA

Rabu, 10 Oktober 2018

 

Hati yang Penuh Belas Kasih

 Bacaan Alkitab : Kejadian 42:18-25

Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis” (ayat 24)

 

Orang banyak mengatakan bahwa kalau menangis adalah tanda seseorang itu lemah. Tetapi apakah benar demikian? Tentu saja tidak. Menangis bukan berarti cengeng. Menangis merupakan ekspresi emosi manusia baik dalam keadaan sedih, marah, terharu maupun gembira. Menangis merupakan hal manusiawi sehingga tidak heran kalau Tuhan Yesus pun pernah menangis tatkala mendengar berita Lazarus meninggal dunia. Tetapi bukan berarti dalam merespon sesuatu kita harus selalu menangis.

Dalam pembacaan hari ini diceritakan bahwa Yusuf menangis. Mengapa ia menangis? Bukankah ia sedang berhadap-hadapan dengan saudara-saudaranya yang dulu pernah membuang dan menjualnya sebagai budak? Besar kemungkinan ia begitu terharu dapat berjumpa kembali dengan saudara-saudaranya. Ia terharu mendengar kabar tentang ayahnya dan adiknya Benyamin yang masih hidup. Hal ini menunjukkan bahwa hati Yusuf tidaklah dikuasai dengan dendam dan sakit hati atas perbuatan yang dilakukan saudara-saudaranya itu. Padahal, sebagai penguasa Mesir, ia bisa dengan begitu mudah untuk menghukum dan membalas kejahatan mereka. Hati Yusuf yang penuh dengan kebaikan dan belas kasih ini tentulah karena ia tetap menjaga kualitas relasinya dengan Allah sehingga dalam keadaan berkuasa sekalipun ia tidak dikuasai dengan kemarahan dan sakit hati.

Sobat muda, dunia akan indah jika memiliki banyak orang seperti Yusuf. Meski kita bukanlah dia tetapi kita dapat meneladani Yusuf. Hal tersebut dilandasi melalui mengisi hati dan pikiran kita dengan firman Tuhan yang berkuasa untuk menyejukkan dan memberikan ketenangan sehingga dengan kekuatan firmanNya itu kita semakin dibentuk dari hari ke hari. Kita memiliki hati yang luas dan lapang penuh dengan belas kasih. Dengan itu kita dapat hadir menjadi pembawa damai sejahtera kepada sesama.

 UNGKAPAN HIKMAT

Dalam hati yang penuh belas kasih tak ada ruang untuk benci apalagi dendam

 

DOA

Ya Tuhan anugerahkan kami hati yang penuh belas kasih sehingga kami mampu mengampuni orang yang bersalah kepada kami

Read More

Renungan SBP | Selasa, 09 Oktober 2018

Renungan SBP | Selasa, 09 Oktober 2018

MINGGU KE XIX SESUDAH PENTAKOSTA

Selasa, 9 Oktober 2018

Kebesaran Hati

Bacaan Alkitab : Kejadian 41:46-52

Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku” (ayat 51)

 

Ada sebuah pepatah latin yang berbunyi: “bonus animus in mala re dimidium est mali” yang diterjemahkan sebagai berikut: “berbesar hati dalam kesengsaraan membuat kesengsaraan itu terasa separuh lebih ringan”. Pepatah tersebut menitikberatkan pada sikap kebesaran hati dalam menyikapi kesengsaraan yang terjadi daripada berkeluh kesah, bersungut-sungut apalagi bersikap apatis.

Yusuf, tokoh dalam pembacaan ini merupakan seseorang yang melewati kesengsaraan yang begitu besar, baik secara fisik maupun mental. Ia dibenci dan dijual oleh saudara-saudaranya sendiri lalu menjadi budak. Ia mengalami fitnahan dan pemenjaraan, juga keterpisahan dari ayah yang sangat mengasihi dan dikasihinya. Kebesaran hati membuat ia dapat menjalani dan melalui masa-masa sengsara di usia yang masih begitu muda. Tetapi ia tetap menunjukkan kualitas dan integritas diri yang tinggi. Dalam kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh Firaun, ia mempergunakannya dengan penuh tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik. Yang teramat penting adalah ia menyadari bahwa Allahlah yang bekerja di balik perjalanan kembara kehidupannya yang menghantarkannya ke posisi yang tinggi di Mesir. Kesadaran inilah yang membuatnya berbesar hati dalam segala keadaan.

Sobat muda, di jaman now tantangan kehidupan yang kita hadapi mungkin tidak seperti apa yang dialami Yusuf pada waktu itu. Namun demikian tantangan masa kini bisa datang dalam berbagai wujud dan bentuknya. Untuk itu dalam menjalani kehidupan, menjalankan tugas tanggung jawab, termasuk menghadapi segala tantangan kita perlu berbesar hati dalam menjalani apa yang harus kita jalani. Dikuatkan dengan keyakinan iman seperti yang Yusuf yakini bahwa Allah turut bekerja di balik segala sesuatu yang kita hadapi, kita akan dimampukan untuk berkarya menghasilkan yang terbaik dalam kehidupan.

 

UNGKAPAN HIKMAT

Kebesaran hati membuat hal yang sukar menjadi memiliki makna

 

DOA

Ya Tuhan ajarkan kami untuk mampu untuk memiliki kebesaran hati dalam setiap pergumulan agar kami melihat dan merasakan kebesaran kuasaMU

 

 

Read More