Media Center

Renungan SBU | Selasa, 07 Mei 2019

Renungan SBU | Selasa, 07 Mei 2019

MINGGU II SESUDAH PASKAH
SELASA, 7 MEI 2019
Renungan Pagi
GB.86 : 1 –Berdoa
MAKAN KENYANG, TIDUR TENTRAM

lmamat 26:3-8
Lamanya musim mengirik bagimu akan sampai kepada musim memetik buah anggur dan lamanya musim memetik buah anggur akan sampai kepada musim menabur.  (ay.5)

Kesetiaan kepada Allah mendatangkan jaminan hidup yang diberkati. Allah tidak bermain-main dengan janji-Nya. Masa depan bangsa lsrael sepenuhnya sejahtera dan tidak ada yang perlu dicemaskan. Pengajaran untuk hidup dalam kekudusan menjadi pentlng karena godaan dan tantangan yang dapat melunturkan percaya mereka kepada Allah Bapa Mahakuasa.

Persoalan dalam hidup manusia ialah ketersediaan materi bagi masa depan keluarga. Misalnya, pekerjaan dengan gaji memuaskan, makanan yang sehat dan berkualitas serta tempat tinggal yang nyaman dan aman. Beragam cara dilakukan manusia guna mendapatkan lmpian dan harapan tentang kehidupan yang berkualitas. Bangsa lsrael dapat mengalami kehidupan yang sempurna jika mereka memiliki hubungan yang lntim dengan Tuhan. Mereka tidak menyembah berhala, memelihara hidup ibadah yang benar, selalu bersyukur kepada Allah di tempat kudus-Nya serta berperilaku sesuai kebenaran firman-Nya. Tuhan tidak memerintahkan kepada bangsa lsrael melakukan hal-hal yang sukar dikerjakan. Semua itu dapat dilakukan selama mereka mengasihi Tuhan dan mengerjakan kehendak-Nya.

Sekarang ini, keinginan manusia tak terkendali sehingga untuk mendapatkannya waktu ibadah ditinggalkan. Manusia bekerja dan bekerja untuk mendapat keinginannya. Sebagai umat Tuhan, hendaknya kita dapat menahan diri dari sikap tamak yang mengakibatkan waktu ibadah lenyap dan persekutuan dengan Tuhan menjadi langka. Apa artinya, jika harta berlimpah namun anak-anak kita jatuh dalam dunia narkoba dan tenggelam dalam keputusasaan Apa artinya?, rumah besar dengan tingkat keamanan maksimal, tetapi gelisah dan tidak bisa tidur sebab banyak beban berat yang dipikirkan? Sudah seharusnya kita menjalani kehidupan yang normal; kehidupan yang berpadanan dengan kehendak Allah. Prioritaskan Tuhan, maka kita dapat menikmati kehidupan yang diberkatl.

GB.86 : 2
Doa : (Kami bersyukur di dalam kasih Yesus yang telah menyediakan berkat dengan limpah sehingga kami dapat makan secukupnya dan beristirahat dengan tenteram)

MINGGU II SESUDAH PASKAH
SELASA, 7 MEI 2019
Renungan Malam
GB.207 : 1,3 –Berdoa


TERLEPAS DARI BEBAN BERAT SELAMANYA

lmamat 26 : 9 – 13
“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak.” (ay.13)

Karya pembebasan Allah merupakan karya keselamatan yang menjadi bukti pertolongan Allah bagi bangsa Israel. Perbudakan di Mesir menjadi pengalaman buruk dan tak terlupakan. Mereka dibebani dengan tanggungjawab kerja yang melelahkan dan mencelakakan. Mereka tidak memperoleh imbalan memadai; diperlakukan di luar batas kemanusiaan. Mereka tidak bisa menjalani kehidupan keluarga yang menggembirakan dan kehilangan waktu beribadah. Segala beban itu terlepas ketika Tuhan campur tangan dengan cara-Nya yang ajaib.

Penegasan kehadiran Allah yang membebaskan menjadi penting bagi bangsa Israel. Kehidupan mereka berubah dengan segala kesempatan yang terbuka luas. Kebebasan mereka bukan karena kemampuan mereka memperjuangkannya, tetapi semata anugerah Allah. Allah mengutus dan memperlengkapi Musa dan Harun sebagai alat yang dipakai menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya. Beban kerja dan segala intimidasi yang diibaratkan dengan ‘kuk kayu‘ sudah dipatahkan. Mereka tidak lagi berjalan sebagai orang upahan atau budak kasar. Mereka memperoleh martabat kemanusiaan penuh sebagai bangsa merdeka. Tuhan telah melepaskan mereka dari penderitaan panjang di Mesir untuk berangkat ke tanah yang dijanjikan; tanah yang diberkati; tanah yang berlimpah susu dan madu. Allah setia atas perjanjian-Nya sehingga bangsa Israel tidak dilupakan dan dibiarkan dalam kesengsaraan selamanya. Karya keselamatan Allah, kita alami dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus. Dilepaskan kita dari kekuatiran hidup dan murka Allah yang menghukum dosa manusia. Tuhan Yesus menjadi jaminan penuh untuk kehidupan sejahtera dan masa depan bahagia. Kita menjalani kehidupan dari pagi sampai tiba malam dalam penyerahan diri pada pertolongan Tuhan. Kita pasti mengalami pelbagai mujizat yang menjadikan kita berhikmat dalam mengambil keputusan dan bekerja dengan rasa syukur yang melimpah.

GB.207: 4,5
Doa : (Kami percaya kasih Tuhan beserta kami dalam tantangan dan pencobaan hidup sehingga kami tetap dapat bersyukur dan memuji Tuhan yang telah melakukan perkara ajaib)

Read More

Renungan SBU | Kamis, 21 Maret 2019

Renungan SBU | Kamis, 21 Maret 2019

MINGGU PRAPASKAH  
KAMIS, 21 MARET 2019    
Renungan Pagi
KJ.423:1,2 –Berdoa


JANGAN MERUGIKAN ORANG LAIN

Imamat 25:14-17
“Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain.” (ay.14)

Ketika harga barang-barang kebutuhan pokok naik dari harga normal, konsumen sering merasa dirugikan. Para penjual dianggap menaikkan harga sesukanya. Pembeli memang tidak mau dirugikan dan berusaha mendapatkan harga yang murah. Jika pembeli membeli barang di pasar, mereka berani untuk menawar agar mendapatkan harga yang murah. Sikap ini tidak terlihat ketika mereka berbelanja di Supermarket. Berapapun harga yang ditawarkan  mereka akan membelinya tanpa penawaran. ?

Prinsip utama dari pesan Imamat 25:14-17 ini adalah orang tidak boleh saling merugikan dalam perdagangan. Pesan ini penting karena itu diulang dua kali (ay.14 dan 17). Prinsip penetapan harga jual adalah jumlah tahun sesudah tahun Yobel. Semakin sedikit tahunnya, semakin kecil harga penjualannya. Semakin banyak tahunnya, semakin mahal harga jualnya. Pembeli tidak boleh menjual barangnya dengan harga mahal ketika jumlah tahun panen masih sedikit atau menjual dengan harga lebih murah ketika jumlah tahun panennya lebih banyak. Demikian pula pembeli tidak boleh hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri dengan selalu menginginkan harga yang lebih murah tanpa memperhitungkan jumlah tahun panen.

Jika proses jual beli berpegang pada prinsip tidak boleh saling merugikan, maka sebenarnya kita tidak perlu khawatir dengan naik turunnya harga. Pembeli tidak khawatir bahwa harga barang akan terus naik tanpa pernah turun lagi. Begitu juga penjual tidak akan khawatir bahwa barangnya akan dibeli dengan harga murah oleh pembeli. Semua warga masyarakat, terutama kalangan ekonomi lemah bisa tetap membeli barang yang mereka butuhkan. Begitu
juga pedagang kecil tidak perlu khawatir dalam soal harga dan pendapatan dengan pedagang bermodal besar yang bisa saja memainkan harga pasar.

KJ.423 : 3,4
Doa : (Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tidak hanya mencari keuntungan diri kami sendiri)



MINGGU PRAPASKAH  
KAMIS, 21 MARET 2019    
Renungan Malam
KJ. 403:1,2 –Berdoa


BERKAT TUHAN CUKUP

Imamat 25:18-22
 Aku akan memerintahkan berkat-Ku kepadamu sehingga hasil panenmu akan cukup untuk 3 tahun.” (ay.21)

Perubahan iklim di Indonesia pada tahun 2010 berdampak pada gagal panen di berbagai daerah. Banyak daerah mengalami krisis pangan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani terkait dengan pemenuhan kebutuhan pangan mereka. Kekhawatirran terus berlanjut bahwa jika situasi ini terus terjadi maka anak cucu Indonesia akan mengalami krisis pangan. Bayangkan saja, baru hasil panen berkurang saja orang sudah begitu khawatir, bagaimana kalau selama setahun tidak boleh menanam atau menuai seperti Israel?

Perasaan khawatir bahwa apakah persediaan makanan yang ada cukup baginya dan keluarganya juga dimiliki Israel ketika mereka diminta untuk selama setahun tidak menanam. Tuhan tahu apa yang ada di pikiran umat. Mereka mungkin khawatir memikirkan aturan Tuhan bahwa mereka tidak boleh menanam selama setahun. Kami makan apa kalau kami tidak boleh menanam atau menuai pada tahun ketujuh (ay. 20)?. Tuhan membuat aturan tidak boleh menanam selama setahun, tetapi Dia menyediakan berkat yang cukup untuk 3 tahun bagi umat selama masa tidak menanam (ay. 21). Aturan itu dibuat dengan tujuan agar umat hidup bergantung pada Tuhannya. Karena itu Dia meminta umat untuk melakukan peraturan-peraturan-Nya dan memelihara hukum-hukumNya agar mereka hidup di negerinya dengan aman (ay.18). Semua ini menunjukkan bahwa Tuhan-lah pemberi hidup dan sumber berkat.

Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa Allah selalu peduli dengan apa yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jangan kita hanya bisa bernyanyi:  “Allah mengerti, Allah peduli segala persoalan yang kita hadapi. Tak akan pernah di biarkannya kubergumul sendiri sebab Allah mengerti.”. Tetapi dalam kehidupan, kita begitu khawatir ketika kita kekurangan makanan. Firman Tuhan ini mengingatkan bahwa Allah tidak akan membiarkan umat-Nya kelaparan. Dia
punya cara untuk mencukupkan kita dengan apa yang kita butuhkan.

KJ. 403:4
Doa : (Kristus, mampukan kami untuk berserah dan percaya bahwa Engkau akan mencukupkan kami dengan apa yang kami butuhkan).

Read More

Renungan SBU | Kamis, 07 Ferbuari 2019

Renungan SBU | Kamis, 07 Ferbuari 2019

MINGGU VIII SESUDAH EPIFANIA
KAMIS, 7 MARET 2019
Renungan Pagi
KJ.448: 1 –Berdoa

BERDUSTA DEMI KEBAIKAN (‘2)

Yosua 2:1-6
Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang engintai…. (ay 1)

Di bawah pimpinan Yosua umat Israel tiba di Sitim (sebelah timur Yordan). Sebelum mereka memasuki tanah Kanaan, negeri terjanji, Yosua mengutus dua orang ke Yerikho, dengan tugas mengintai dan menyelidiki negeri itu. Ingat bahwa Yosua bersama 11 orang persis dulu perna diutus Musa untuk mengintai tanah Kanan (lihat Bil pasal 13). Mereka tiba di Yerikho dan menginap di rumah Rahab, seorang perempuan sundal. Rumah itu tempat berkumpul para Ielaki, sehingga kehadiran kedua orang pengintai itu dengan mudah tersebar di kota kecil itu. Ketika raja tahu, maka ia menyuruh orang kepada Rahab agar membawa kedua tamu itu kepadanya, karena mereka adalah pengintai dari pihak musuh.

Lalu apa yang kemudian dilakukan oleh Rahab? la menyembunyikan kedua tamunya di sotoh rumahnya di bawah tumpukan rami. Lalu, ia melaporkan kepada raja bahwa tamunya sudah pergi, sebab itu ia tidak tahu mereka ada di mana, dan menyarankan agar mereka segera dikejar.

Demi keselamatan tamunya, Rahab mendustai raja. Bolehkah berdusta demi kebaikan? Jika “ya”, maka itu berarti demi mencapai tujuan, kita boleh dong menghalalkan segala cara (?). Sengaja melukai orang lain adalah perbuatan kriminal. Ya, kan? Jika ya, maka, mengapa dokter ahli bedah tidak dilaporkan ke polisi, bahkan ia dibayar untuk membedah orang? Adalah baik jika kita jangan hanya melihat perbuatannya, tapi perhatikan juga situasinya! Hati-hati juga dengan ungkapan ini, sebab seringkali orang membenarkan diri dengan begitu saja menyalahkan situasi. Mungkin, keselamatan manusia adalah hukum tertinggi (?).. Marilah kita lihat kata Yesus bahwa hukum yang utama dan pertama ialah mengasihi Tuhan dan manusia.

KJ.446 : 2
Doa : (Ya Tuhan, teguhkan kami agar setla mengasihi Tuhan dan sesama)


MINGGU VIII SESUDAH EPIFANIA
KAMIS, 7 MARET 2019
Renungan Malam
KJ.2B9 :1 –Berdoa

RAHAB MEMBERI INFORMASI

Yosua 2:7-10
“… naiklah perempuan itu … dan berkata kepada orang-orang itu …” (ay 8-9)

Rehab menemui kedua tamu yang disembunyikannya itu. La mengatakan dua hal kepada mereka, yaitu: 1) bahwa Allah telah memberikan negerii ini kepada umat Israel. 2) kengerian kepada umat Israel telah menghinggapi seluruh penduduk negeri dan kota Yerikho Karena mereka sudah mendengar Tuhan teiah mengeringkan laut Teberau dan menumpas dua raja orang Amorl. Berita ini sangat menentukan sikap Rahab terhadap kedua pengintai itu.

Rahabtelah menjadi informan yang tepat bagi kedua pengintai. Dari manakah Rahab tahu tentang kehebatan Tuhan, Allah Israel, dan pasukan Israel? Sebagai seorang perempuan sundal, maka rumah Rahab mungkin berupa warung minum, tempat berkumpul dan ngobrol-ngobrol yang banyak dlkunjungi oleh kaum lelaki.
Biasanya apa saja diperbincangkan di tempat seperti itu, sehingga kita maklum jika Rahab tahu banyak hal yang sedang terjadi, karena itu informasinya akurat.

Di kalangan umat Israel, kesaksian seorang perempuan tidak dihargai, karena itu seorang perempuan tidak boleh menjadi saksi di pengadilan. Tetapi, nyatanya pengintai dan juga Yosua menghargai kesaksian imformasi dari Rahab. Penulis kiitab sebenarnya menghargai perempuan sebagai saksi. Dalam PB dikatakan bahwa saksi pertama kebangkitan Yesus adalah para perempuan.

Rahab menyelamatkan kedua pengintai Israel itu dari rencana penangkapan raja Yerikho. Rahab termasuk jajaran orang-orang yang dipakai oleh Tuhan untuk mewujudkan rencana dan karyaNya kepada umat-Nya (lihat, silsilah Yesus di Mat 1:5 ada nama Rahab). Umat Israel percaya bahwa Tuhan bebas memilih siapa saja demi mewujudkan rencana-Nya. Siap sediakah jika Tuhan mernanggilmu, sebab la tahu siapa kita!


KJ.300:5
Doa : (Tuhan berkatilah usaha emandipasi perempuan di negeri ini)

Read More

Renungan SBU | Rabu, 06 Ferbuari 2019

Renungan SBU | Rabu, 06 Ferbuari 2019

RABU, 6 MARET 2019
Renungan Pagi
KJ 421:1 –Berdoa

MINGGU VIII SESUDAH EPIFANIA


YONATHAN BERSAHABAT DENGAN DAUD

1 Samuel 18:1-4
Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.  (ay 3)

Yonathan mengikat perjanjian persahabatan dengan Daud karena ia mengasihi Daud seperti dirinya sensiri, dengan memberikan jubahnya, baju perangnya, pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya kepada Daud. Jelas dikatakan di dalam teks bahwa ikatan persahabatan itu bermula dari berpadunya dua jiwa dalam diri Yonathan dan Daud.

Hubungan persahabatan dengan Daud itu diikat oleh Yonathan setelah Daud diurapi menjadi raja okeh Samuel (pasal 6:1-16). Persahabatan itu diwujudkan dalam konteks adanya hubungan politis di antara mereka berdua, sebab Daud sudah diurapi untuk kelak menjadi raja Israel menggantikan Saul ayah Yonathan. Secara politis Yonathan akan menjadi raja Israel menggantikan ayahnya Saul, sebab ia anak sulung Saul. Hubungan persahabatan itu berdasarkan kasih. Sedangkan hubungan poiitik itu berdasarkan kepentingan (salah satu prinsip politik ialah “tidak ada sahabat yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi).

Jika dilihat dari posisi Yonathan selaku anak sulung Saul dan pewaris raja Israel dan posisi Daud selaku orang yang sudah diurapi jadi raja, maka persahabatan Yonathan dan Daud ini membuat keduanya dalam posisi dileatis. Mengapa? Sebab keduanya sah menjadi raja Israel. Yonathan Sah karena dia anak sulung Saul, sedangkan Daud sah atas dasar pengurapan Samuel. Tanpa disadari mereka sedang bersaing menjadi raja. Siapakah yang akhirnya menjadi raja Israel menggantikan raja Saul. Yonathan atau Daud? Jawabnya ialah Daud, karena ia pilihan Tuhan. Umat Israel yakin bahwa raja Israel adalah pilihan Tuhan. Persahabatan mereka tidak ternodai karena perseteruan politik. Yonathan membantu Daud melarikan diri dari usaha pembunuhan Saul dan Daud sangat memperhatikan mefiboset anak Yonathan, setelah ia menjadi raja.

KJ 421:3

Doa : (Ya Tuhan, tolong kami agar kami sungguh percaya akan Firman-Mu)

MINGGU VIII SESUDAH EPIFANIA .
RABU, 6 MARET 2019
Renungan Malam
KJ 422:1,2 –Berdoa


SAUL MEMPROMOSIKAN DAUD

1 Samuel 18:5
sehingga Saul mengangkat dia mengepalai para prajurit. Hal ini dipandang baik oleh seluruh rakyat dan juga oleh pegawai-pegawai Saul. (ay.5b)

Ada debat tentang pertanyaan perlumbuhan anak, yaitu, manakah yang Iebih dulu: kaki anak kuat atau anak berjalan’?. Mana pun jawaban yang kita pilih, rnaka kedua-duanya benar, sehingga perdebatan tidak akan selesai. Benar bahwa anak jadi kuat jika bisa berjalan, dan anak bisa berjalan jika kakinya kuat.

Jika kita simak baik-baik bacaan kita malam hari ini, maka ada tiga hal yang diinformasikan, yaitu: 1) Kemana pun Daud ditugaskan berperang, ia selalu berhasil; 2) karena itu Saul memprornosikan Daud jadi kepala prajurit; dan 3) promosi Daud itu dipandang baik oleh seluruh rakyat dan para pegawai Saul. Mengapa Daud selalu berhasil? la selalu berhasil setelah dia diurapi oleh Samuel menjadi raja untuk menggantikan Saul.

Jika pengurapan itu merupakan unsur iman, maka keberhasilan itu adalah unsur perbuatan. Pertanyaannya ialah manakah lebih dulu iman atau perbuatan? Jelas dalam cerita kitab I Samuel bahwa pengurapan Daud mendahului keberhasilannya. Laiu dikatakan bahwa semakin Daud berhasil, maka Saul semakin iri kepada Daud. Karena itu Saul semakin berusaha membunuh dia. Dalam PB, khususnya di Yakobus 2:22, menegaskan bahwa iman dan perbuatan bekeaja sama dan saling menumbuhkan satu terhadap yang lain. Dikatakan bahwa iman tanpa perbuatan itu sia-sia. Demikian sebaliknya, perbuatan tanpa iman itu juga sia-sia. Oleh sebab itu, iman dan perbuatan itu bertumbuh-kembang secara bersama-sama. Demikian halnya dengan Daud : semakin ia berhasil maka; semakin ia yakin akan pengurapannya; semakin ia yakin dengan pengurapannya, maka semakin ia berhasil. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama harus bertumbuh bersama. Jika hanya satu sisi saja (iman atau perbuatan) ditumbuhkan, maka hasilnya keduanya tidak bertumbuh.

KJ.422:3,4
Doa : (Kaml barsyukur pada Tuhan atas promosimu bagi orang beriman)

Read More

Renungan SBU | Selasa, 18 Ferbuari 2019

Renungan SBU | Selasa, 18 Ferbuari 2019

MINGGU VI SESUDAH EPIFANI
SELASA, 19 FEBRUARI 2019 
Renungan Pagi
GB 118:1 –Berdoa


JAMINAN JANJI TUHAN


Yosua 3:7-13
supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau. (ay 7b)

Salahkah jika kita menilai tipe kepemimpinan dua orang pendeta di Jemaat‘? Tidak salah! Mengapa? Sebab pendeta memiliki karakter, pembawaan dan kapasitas yang tidak sama, saling berbeda. Jika perbedaan ini dipahami, Jemaat akan aman. Kalau tidak, akan mudah menyulut konflik di Jemaat. Telah terjadi penggantian pemimpin Israel dari Musa kepada Yosua dalam kisah perikop nas pagi ini. Keduanya memiliki karakter, pembawaan dan kapasitas berbeda. Sementara itu telah terjadi alih generasi dalam lingkungan yang berbeda pula. Namun diatas keberbedaan ini Tuhan memanggil dan mengutus baik Musa maupun Yosua serta menyatukan mereka dalam misi pembebasan dan penyelamatan umat-Nya dari Mesir ke Kanaan.

Lihatlah! Allah membesarkan nama Yosua sama dengan pendahulunya Musa. Allah bertindak mengeringkan sungai Yordan di masa Yosua memimpin Israel memasuki tanah Kanaan, sama dengan tindakan-Nya mengeringkan laut Teberau pada masa Musa memimpin umat keluar dari Mesir, Allah yang berjanji, adalah juga Allah yang mewujudkan janji-Nya. Sesulit apapun perjalanan umat menghadapi rintangan suku-suku di negeri Kanaan, Tuhan tetap hadir mengisi jalur perianjian-Nya sejak dari Mesir. Janganlah terpaku pada perbedaan keragaman umat. Jangan terusik oleh perbedaan karakter dan kapasitas pendeta. Genggamlah panggilan dan pengutusan Tuhan yang tidak berubah dalam dunia yang selalu berubah.

GB.118:3
Doa: (Walaupun sulit jalannya hidup keiuarga dan gereja masa kini, tetaplah Tuhan, dampingi dan tolonglah kami berjalan bersama-Mu)



MINGGU VI SESUDAH EPIFANI
SELASA, 19 FEBRUARI 2019 
Renungan Malam
GB.205:1 –Berdoa


PERISTIWA DI SUNGAI YORDAN


Yosua 3:14-17
— sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai —   (ay.15)

Paling tidak ada empat bentuk kerjasama. 1. Kerjasama antara manusia demi Allah. 2. Kerjasama manusia dangan Allah demi makhluk Iain. 3. Kerjasama manusia dengan makhluk lain bagi Allah. 4. Kerjasama Allah dengan makhluk lain demi manusia. Dalam penjabarannya mungkin saja kerjasama tersebut menjadi suatu diskusi panjang bahkan bisa berkembang kearah perdebatan hangat dan menarik.

Mari kita fokus hanya pada aspek ke-4 yaitu kerjasama Allah dengan makhluk lain demi manusia berdasarkan topik perikop Alkitab malam ini. Adakah hadir tokoh-tokoh di atas‘? Ya, ada! manusia, makhluk ciptaan lain dan Allah. Nampak kerjasama di antara manusia yakni umat Israel, para imam dan pemimpin Yosua. Kerjasama manusia dengan Allah yakni kepatuhan Yosua, para imam dan umat Israel pada Allah. Kerjasama Allah dan lingkungan, yakni ketika kuasa Allah tampak atas sungai Yordan yang berubah kering saat diinjak para imam ketika memasuki lanah perjanjian-Nya.

Peristiwa penyeberang an di sungai Yordan kembali menunjukkan kepada kita tentang alam yang tunduk pada Tuhan dan kehendak-Nya. Sehubungan dengan kenyataan tersebut kita dipanggil berdamai dengan lingkungan hidup. dengan Allah dan antar sesama kita demi memuliakan Allah Bapa di surga dan membawa sejahtera bagi manusia dan lingkungannya. Bertambahnya siklus bencana alam dewasa ini mendorong kita makin membina kebersamaan seutuhnya dan saling menolong sebagai ungkapan penyembahan yang benar bagi Allah Bapa.

GB 205:4
Doa : (Ajari kami mengenal dan memahami keagungan-Mu Tuhan, menata hidup manusia dan lingkungannya! demi kemuliaan Tuhan dan martabat kemanusiaan)

Read More

Renungan SBU | Senin, 14 Januari 2019

Renungan SBU | Senin, 14 Januari 2019

MINGGU I SESUDAH EPIFANIA
SENIN, 14 JANUARI 2019
Renungan Pagi
KJ.355:1 –Berdoa

SEMANGAT MEMANFAATKAN KARUNIA ROHANI DEMI MEMBANGUN JEMAAT KRISTUS

1 Korintus 14:10-12
Demikian pula dengan kamu : Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat (ay.‘12).

Menurut hasil riset ethnologue, organisasi yang mempublikasikan riset tentang bahasa-bahasa di dunia, saat ini ada sebanyak
7.099 bahasa hidup (aktif digunakan) diseluruh dunia. Secara khususa di Indonesia, saat ini ada sebanyak 707 bahasa hidup, yang
masih aktif digunakan di seluruh wilayah Indonesia. Bahasa adalah alat kemunikasi penting bagi manusia. Ketidak jelasan dalam menggunakan bahasa bisa menimbulkan kesalahpahaman yang pada gilirannya akan memicu pertikaian, perpecahan bahkan kehancuran.

Dalam pembacaan Alkitab hari ini, Paulus kembali menggunakan analogi (kiasan) untuk menjelaskan efektifitas penggunaan karunia
berbahasa roh di dalam pertemuan jemaat dan ibadah. Kali ini, ia menggunakan analogi tentang bahasa sebagai alat komunikasi.
Paulus mengetahui bahwa ada banyak jenis bahasa yang ada di dunia. Dan ia meyakini dengan pasti bahwa tidak ada satu pun
bahasa yang tidak mempunyai bunyi yang berarti. Kalau ada orang yang menyampaikan suatu bahasa kepada orang lain, namun orang
lain yang mendengar tidak bisa mengerti, maka orang yang menyampaikan akan menjadi orang asing bagi si pendengarnya, demikian juga sebaliknya.

Melalui analogi tersebut, Rasul Paulus sebenarnya mau mempertegas kembali ketidak efektifan penggunaan bahasa roh dalam
pertemuan jemaat dan ibadah. Menurutnya, bahasa roh hanya berguna untuk membangun diri sendiri. Padahal ia berulangkali rnenggaris bawahi bahwa karunia-karunia Roh Kudus harus dipergunakan membangun Jemaat (ayat 12).

Banyak karunia rohani yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap orang percaya, rnisalnya : menulis, rnengajar‘ bernyariyi, bermusik,
dsb. Ketika kita akan mengawali aktifitas kita di hari ini, Firman Tuhan rnengingatkan agar kita senantiasa menggunakan karunia
rohani yang sudah dianugerahkan Roh Kudus, bukan untuk menunjukkan kehebatan diri kita, melainkan membangun Jemaat
Tuhan. Layanilah Tuhan dengan karunia rohani yang diberikan-Nya kepada kita.

KJ. 357:1,2
Doa : (Ya, Tuhan terima kasih untuk karunia Roh yang Engkau anugerahkan kepada kami. Ajar kami untuk menggunakan karunia Roh tersebut untuk membangun jemaat-Mu)

Read More