Renungan SBU | Selasa, 30 Oktober 2018

Posted by on Oct 30, 2018 in Sabda Bina Umat | 0 comments

Renungan SBU | Selasa, 30 Oktober 2018

MINGGU XXII SES. PENTAKOSTA
SELASA, 30 OKTOBER 2018
Renungan Pagi
KJ.230 : 1,2 –Berdoa

KEPEMIMPINAN UMAT (GEREJA)

2 Timotius 2: 14 – 22
“Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat,ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yangmulia (ay.21)

Setiap komunitas (bangsa, partai dan perkumpulan) memerlukan pemimpin. Pemimpin itu dipilih secara prosedur aklamasi atau demokratis dengan syarat tertentu. Akan tetapi komunitas gereja dan kepemimpinannya berbeda dengan komunitas bangsa, partai atau organisasi sosial.

Dalam bacaan kita ini, rasul Paulus memberi arahan dasar kepemimpinan umat (gereja). Pemimpin adalah gembala umat. Karena ia melakukan pekerjaan kudus dan mulia atas nama Tuhan, maka syarat utama kualitasnya adalah harus beriman, kudus (tidak bercacat cela) dan bijaksana. Sebagai pemimpin umat, ia harus bersikap etis terpuji, sopan-santun, tidak omong kosong, tetapi membangun iman pendengarnya, menjauhi diri dari perbuatan jahat, “nafsu (seperti seorang muda yang ceroboh), mampu mengendalikan diri, dan menjadi panutan umat.

Pengalaman pemilihan Diaken dan Penatua dalam jemaat, sering diwarnai pertikaian para calon dengan Pendeta (Ketua Panitia Pemilihan) atau perpecahan jemaat. Banyak calon bersikukuh mau jadi Penatua, tidak mau jadi Diaken. Jabatan Diaken dianggap jabatan kelas rendahan, pembantu atau pesuruh. Salah paham mengenai status jabatan Diaken dan Penatua ini bukti ketidak dewasaan umat, walaupun telah dibina bertahun tahun oleh berbagai Pendeta yang silih berganti sebagai Ketua Majelis Jemaat (= KMJ). Apakah Jabatan Penatua yang diperebutkan itu? Penatua haruslah seorang yang rajin beribadah, memiliki pengetahuan Alkitabiah yang mendalam, kritis dan mampu menganalisa masalah, sehingga dapat turut memecahkan masalah umat. Mampu mempastoral umat yang bermasalah. Rajin memantau kehidupan umat, menegur yang bersalah dan mendoakan pergumulan umat.

Bukan calon yang menentukan kedudukannya, tetapi Roh Tuhan yang menetapkan melalui pemilihan umat dan arahan Pendeta sebagai hamba Kristus sang pemilik jemaat. Yang memprotes berarti melawan Roh dan kehendak Tuhan.

KJ. 230 : 3,4
Doa : (Ya Tuhan, ajarlah saya mengerti maksud-Mu)


MINGGU XXII SES. PENTAKOSTA
SELASA, 30 OKTOBER 2018
Renungan Malam
KJ.231 : 1,2 –Berdoa

PELAYAN YANG LEMAH LEMBUT

2 Timotius 2:23-26
“seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah kepada semua orang” (ay.24)

Menjadi pelayan gereja (hamba Tuhan) adalah melakukan pekerjaan mulia untuk Tuhan. Yang bersedia, bukan saja berarti layak bagi Tuhan, tetapi juga harus hidup menyangkal diri (bebas polusi dari keinginan nafsu duniawi).

Salah satu syarat diungkapkan dalam bacaan kita malam ini ialah pelayan (hamba Tuhan) harus menyangkal diri alias “tidak boleh bertengkar satu sama lain (dengan sesamanya), tetapi harus lemah lembut kepada setiap orang”. Sikap lemah lembut adalah sikap moral yang sabar, rendah hati, menahan diri dan etis yaitu menghargai dan menghormati sesamanya. Dengan sikap itu, Tuhan memakai dia untuk menuntun orang yang suka melawan, berubah sadar, bertobat dan menjadi baik. Kepribadiannya mem bawa berkat bagi sesama untuk mengenal keselamatan sejati.

Sebaliknya, pelayan (hamba Tuhan) yang lancang mulut dan ringan tangan, Tuhan memandangnya tidak layak, dia akan memperoleh murka Tuhan atas perbuatannya yang tidak patut dan menggusarkan umat Tuhan. Hal ini pernah terjadi pada Musa. Akibatnya, ia tidak diizinkan oleh Tuhan masuk tanah perjanjian, karena dosa pertengkaran dengan umat Tuhan, mengenai air minum dan makanan (BiI.27:12-14 dan U|.3:26-27).

Hal yang sama akan dilakukan Tuhan bagi pelayan yang suka bertengkar dengan sesamanya dan umat Tuhan. Para pelayan (ham ba Tuhan) milikilah cara hidup yang baik, sabar dan rendah hati. Biarlah Tuhan yang mengutus saudara bertindak membalas kejahatan orang kepada saudara, dan saudara akan masuk perhentian yang dijanjikan Tuhan setelah berjerih lelah, sebagai upahmu.

KJ. 231 : 3
Doa : (Tuntunlah saya Tuhan, menjadi hamba yang berkenan pada-Mu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *