Renungan SBU | Rabu, 21 November 2018

Posted by on Nov 21, 2018 in Sabda Bina Umat | 0 comments

Renungan SBU | Rabu, 21 November 2018

MINGGU XXV SES. PENTAKOSTA
RABU, 21 NOVEMBER 2018
Renungan Pagi
GB.41:1,2 –Berdoa

HATI BUKAN PAKAIAN

Yoel 2:12-15
Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu  (ay.13)

Terkadang kita harus berpikir seribu kali saat mengambil keputusan lalu bertindak. Dalam perikop bacaan diawali dengan permintaan Tuhan “tetapi sekarang juga…”. Bisa dibayangkan di satu sisi Allah mempersiapkan hukuman bagi Israel atas kesalahan mereka tetapi di sisi lain Allah rnerninta dengan memaksa bahwa bangsa ini harus bertobat dan waktunya adalah “sekarang juga”. Ini menggambarkan bahwa bagi Allah pertobatan bangsa ini lebih penting daripada hukuman yang akan diberikan. Pertobatan tidak bisa ditunda tetapi hukuman dapat dibatalkan. Inilah yang menunjukkan bahwa Allah adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Bertobat seperti apa yang Tuhan harapkan? Pertobatan yang dikehendaki Allah ialah berbalik dengan sepenuh hatl, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh. Inilah yang dimaksud dengan mengoyakkan hati yaitu hati yang berbalik kepada Allah dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Pertobatan manusia jangan sekadar tindakan demonstrative sepeni mengoyakkan pakaian. Pertobatan demikian bukan yang dikehendaki Allah. Berpuasa, menangis, mengaduh adalah symbol pertobatan yang jujur datang dari hati. Sementara pertobatan dengan simbol mengoyakkan pakaian ditolak oleh Allah karena bukan dari hati.

Pernahkah kita fokus pada kasih Allah yang besar ketika bertobat? Pernahkah kita fokus pada pembatalan hukuman Allah ketika bertobat? Fokuslah pada kasih Allah yang besar sehlngga pertobatan bukan sesuatu yang tertunda tetapi segera dilakukan. Bukan hanya segera, Allahjuga meminta kita mengoyakkan hati yaltu bertobat dengan ketulusan dan kejujuran. Pertobatan yang menyenangkan hati Allah dan bukan sekadar ritual karena kewajlban agama.

GB.41:3,4
Doa : (Biarlah pertobatan kami jujur dan tulus di hadapan Tuhan sehingga kami dapat menikmati anugerah-Mu)


MINGGU XXV SES. PENTAKOSTA
RABU, 21 NOVEMBER 2018
Renungan Malam
KJ.32 : 1,2 –Berdoa

PERTOBATAN KOMUNAL

Yoel 2 : 16 – 17
“…kumpuIkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah…” (ay.16)

Dalam perikop ini, Allah meminta pertobatan yang dilakukan dengan cara yaitu : Pertama, seluruh bangsa harus hadir mulai dari anak menyusui hingga orang tua. Semua harus meninggalkan kerjanya bahkan para penganten pun harus menghadap Allah. Kedua, bangsa ini harus dikuduskan atau ditahir. Yang berarti mereka harus kudus ketika menghadap Tuhan. Ketiga, para imam, harus menangis menyampaikan permohonan pengampunan kepada Tuhan.

Pertobatan adalah pergumulan bangsa Israel. Allah bukan hanya meminta kehadiran dari anak yang menyusui sampai pada orang dewasa dengan pengakuan mereka. Allah bukan hanya meminta tangisan para imam dan pelayan Tuhan tetapi juga seluruh jemaah dengan kekudusan mereka. Jelas pertobatan umat bukan sebagai
sesuatu yang sekunder atau sampingan, melainkan yang utama dan mendesak sebab semua orang harus meninggalkan aktifitas mereka untuk terlibat bersama dalam pengakuan tobat umat.

Dalam banyak pergumulan khususnya pergumulan dalam persekutuan, pertobatan komunal atau penobatan yang sungguh-sungguh sebagai suatu persekutuan adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi. Mengapa‘? Karena pertobatan sepertinya hanya menjadi tuntutan sepihak. Selalu ada tuntutan penobatan dari para imam atau pelayan yang meminta jemaat bertobat. Demikian pula sebaliknya, jemaat meminta para pelayan yang bertobat.

Pertobatan bangsa Israel dalam perikop ini bahwa Allah meminta bangsa Israel bertobat bersama, suatu pertobatan massal. Pertobatan massal ini penting agar mereka sebagai milik Tuhan, tidak menjadi cela dan sindiran bagi bangsa lain yang tidak mengenal Allah. Mari bertobat bersama agar persekutuan kita tidak menjadi cela dan sindiran bagi orang Iain.

KJ.32 : 3,4
Doa : (Jadikan pertobatan kami sebagai persekutuan untuk menghindarkan kami sebagai cela dan sindiran bagi Tuhan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *